Surga di Telapak Kakimu Ibu! Tapi Kapitalisme terus Memeras Keringat dan Air Matamu


Surga di Telapak Kakimu Ibu! Tapi Kapitalisme terus Memeras Keringat dan Air Matamu

Dibagian lain ada wanita yang tak punya pilihan. Bagi mereka harinya sibuk untuk menjawab pertanyaan: "Anak saya besok makan apa? " dan sibuk untuk berdoa: "Semoga anak saya mempunyai kehidupan yang lebih baik".
Oleh: Aab Elkarimi

Mujahid 212 - Saya tak pernah melupakan bait-bait hadits yang sering dibacakan di langgar usai maghrib, atau hafalan hadits arbain di Madrasah Diniyah belasan tahun silam soal keutamaan seorang ibu. Begitu mulianya mereka dalam pandangan Islam, sampai berkata 'ah' saja pada mereka sangat dikecam dan dilarang.

Lalu di pagi hari yang mendung, saya melihat postingan viral di facebook tentang seorang ibu yang menggendong anaknya sambil mendorong motor. Ia mengenakan jaket Ojol, bukti bahwa ia sedang bekerja. dalam postingan tersebut tertulis:

Ada sebagian wanita yang beruntung dilahirkan dari keluarga kaya, yang tanpa perlu bekerja keras dia tetap dapat hidup dengan layak. Sebagian wanita lain beruntung karena dikaruniai suami yang telah mapan dan siap menafkahi istri dan anak2nya lebih dari cukup.

Sebagaiannya lagi bekerja keras bersama suaminya untuk mewujudkan impian bersama.
Dibagian lain ada wanita yang tak punya pilihan. Bagi mereka harinya sibuk untuk menjawab pertanyaan: "Anak saya besok makan apa? " dan sibuk untuk berdoa: "Semoga anak saya mempunyai kehidupan yang lebih baik".

Untuk para wanita yang bekerja keras saya doakan semoga dimudahkan urusannya, dikuatkan kakinya, dilimpahkan rejeki yang berkah, yang dengan segala ikhtiranya dapat tersenyum dihari tuanya melihat keberhasilan anak2nya amiin..

Terhenyak memang. Foto yang mencuri perhatian dari ribuan postingan di beranda itu malah menyisakan sesak. Saat emansipasi menjadi mantra sakti, bersamaan itu pula tanggung jawab soal nafkah menjadi memudar. Mereka harus memeras keringat dan air mata sendirian menghadapi pahitnya kehidupan.

Padahal ketika kita berbicara tentang siapa yang menjamin wanita dalam sudut pandang Islam, sepengetahuan saya, setiap seorang wanita dalam pandangan Islam telah dijamin 5 laki-laki dalam hal kebutuhannya. Lebih ringkasnya hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

1. Secara hukum asal, semua kebutuhan Istri adalah tanggung jawab Suami
2. Ketika Suami meninggal, maka istri dijamin oleh Anaknya.
3. Jika Anaknya belum baligh, tidak ada, atau sudah meninggal, maka istri dijamin oleh Ayahnya.
4. Jika Ayahnya sudah tiada maka istri dijamin oleh Saudara laki-lakinya.
5. Jika mereka sudah meninggal juga atau karena suatu sebab tidak mampu, maka barulah disini negara yang turun tangan.

Namun hari ini kita hidup dalam jeratan kapitalisme. Sebuah ideologi dengan faham-faham seolah hebat namun rapuh. Mereka memisahkan agama, bahkan tak penting membicarakan agama dalam kehidupan, namun mereka abai dan tak punya konsep soal bagaimana menjamin hak wanita dalam Islam. Mereka teriak emansipasi, feminisme, namun gagal dalam mendefiniskan hak dan kewajiban mereka. Disaat kita menuntut dilanjutkannya kehidupan Islam lewat penerapan syariat dalam kehidupan malah mereka congkak menolak dan menuduh kami radikal.

Allah, ya ghaffar...
Kami sadar bahwa surga di telapak kaki ibu, kami faham bahwa wanita teramat mulia yang harus benar-benar dijaga. Namun kapitalisme pula yang memaksa kami membiarkan mereka memeras keringat dan air mata sendiri. Maka berilah kekuatan pada kami dalam perjuangan untuk mengembalikan Islam menjadi satu-satunya sistem dalam kehidupan.

Sudah barang tentu penerapan syariat Islam itu membutuhkan negara sebagai instansi yang melaksanakan syariat Islam. dan itulah Khilafah. []



loading...